Harga emas terus menguat signifikan pada hari Senin (13/10) memasuki sesi Washington, menembus rekor baru di tengah gelombang permintaan aset safe-haven. Spot gold sempat menyentuh puncak baru di level US$ 4.096,56 per ons.
Dorongan utama datang dari meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Di saat Presiden Donald Trump mengancam penerapan tarif 100% terhadap barang-barang asal Tiongkok, muncul pula harapan akan terjadinya perundingan yang lebih lunak, memunculkan campuran antara ketegangan dan optimisme di pasar.
Meski momentum penguatan masih kuat, sejumlah analis memperingatkan potensi koreksi jangka pendek. Kenaikan harga yang terlalu cepat membuka ruang bagi aksi ambil untung (profit taking), sementara ketidakpastian seputar kebijakan moneter Federal Reserve — terutama terkait waktu dan besaran pemangkasan suku bunga — tetap menjadi faktor penting yang akan menguji kekuatan reli ini.
Ke depan, proyeksi jangka menengah untuk emas masih cenderung positif. Bank of America bahkan telah menaikkan target harga emas menjadi US$ 5.000 per ons pada tahun 2026, mencerminkan ekspektasi bahwa permintaan aset safe-haven dan tekanan makroekonomi global akan terus menopang tren kenaikan.
Bagi investor, strategi diversifikasi portofolio sambil memantau isu geopolitik dan kebijakan moneter bisa menjadi langkah bijak di tengah volatilitas tinggi pasar logam mulia saat ini.
(Arl / Sumber: Newsmaker.id)
