Harga Minyak Terkoreksi,Setelah Naik 16%, Pasar Lepas Premi Risiko Geopolitik

PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 02/02/2026 – Harga minyak melemah tajam setelah mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2022. Setelah pasar sebelumnya “ngegas” karena ketegangan geopolitik, kini pergerakan berbalik arah seiring trader menilai risiko gangguan pasokan belum akan terjadi dalam waktu dekat.

Brent bergerak di kisaran US$68 per barel setelah naik sekitar 16% bulan lalu, sementara WTI bertahan di atas US$63 per barel. Koreksi ini terjadi saat pelaku pasar memantau langkah lanjutan Donald Trump terkait Timur Tengah, sekaligus perkembangan pembicaraan damai konflik Eropa Timur.

Dari sisi geopolitik, Trump meredakan tensi setelah mengecilkan ancaman perang regional yang sebelumnya disuarakan Ayatollah Ali Khamenei. Trump juga kembali menegaskan harapannya agar kesepakatan masih bisa dicapai dengan Iran. Nada yang lebih moderat ini mendorong pasar melepas sebagian premi risiko yang sebelumnya melekat pada harga minyak.

Menurut Haris Khurshid dari Karobaar Capital LP, pelemahan kali ini lebih mencerminkan reset positioning ketimbang perubahan fundamental. Tanpa kejutan baru dari sisi pasokan, pasar cenderung menghapus premi risiko karena skenario gangguan yang sebelumnya dipricing belum benar-benar terjadi.

Fokus pasar turut mengarah ke diplomasi. Pertemuan trilateral berikutnya antara AS, Rusia, dan Ukraina dijadwalkan pada 4–5 Februari di Abu Dhabi, menurut Volodymyr Zelenskiy. Meski begitu, terobosan masih terbatas, sementara perang yang mendekati tahun kelima tetap menjadi faktor utama karena risiko sanksi terhadap perdagangan minyak Rusia belum sepenuhnya mereda.

Sebelumnya, minyak reli selama beberapa pekan akibat eskalasi yang membuat AS dan Iran disebut “nyaris bentrok”, terutama setelah ancaman Trump pada Januari. Ketegangan itu mendorong kekhawatiran pasar terhadap pasokan di kawasan penghasil sekitar sepertiga minyak dunia. Namun, di sisi lain, pasar juga masih dibayangi narasi potensi surplus pasokan global.

Di luar geopolitik, sentimen juga dipengaruhi langkah OPEC+ yang mempertahankan rencana produksi tetap pada Maret, sebagai bagian terakhir dari kebijakan “freeze” tiga bulan. Pelaku pasar juga mencermati koreksi tajam pada logam mulia (emas dan perak) yang ikut memicu mode recalibrate risk di pasar global.

Pada pukul 08.07 waktu Singapura, Brent turun sekitar 2,4% ke US$67,64, sementara WTI melemah 2,6% ke US$63,54, menandakan pasar mulai mengurangi premi risiko dan kembali ke fase perhitungan ulang.

Sumber: Newsmaker.id