PT. KONTAKPERKASA FUTURES BALI 04/02/2026 – Harga minyak melanjutkan penguatan untuk hari kedua berturut-turut seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap ketegangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen risiko menguat setelah laporan menyebutkan AS menembak jatuh drone Iran di dekat kapal induk Amerika Serikat di Laut Arab.
Kontrak West Texas Intermediate (WTI) bergerak naik mendekati US$64 per barel, setelah mencatat kenaikan 1,7% pada perdagangan Selasa. Sementara itu, Brent ditutup di atas US$67 per barel, mencerminkan pasar yang mulai mempertimbangkan kembali potensi risiko geopolitik.
Meski memicu kewaspadaan, ketegangan tersebut belum sepenuhnya berkembang menjadi eskalasi besar. Presiden AS Donald Trump menegaskan jalur diplomasi masih berjalan. Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt juga mengonfirmasi bahwa pembicaraan AS–Iran masih dijadwalkan berlangsung pada Jumat.
Dari sisi fundamental, harga minyak turut mendapat dukungan dari data persediaan minyak AS. American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak mentah AS turun 11,1 juta barel pada pekan lalu. Jika angka ini dikonfirmasi oleh data resmi, penurunan tersebut berpotensi menjadi yang terbesar sejak Juni.
Kekhawatiran konflik di Timur Tengah—wilayah yang menyumbang sekitar sepertiga pasokan minyak dunia—telah mendorong harga minyak sejak bulan lalu. Namun demikian, pasar juga mencermati indikasi pasokan global yang mulai berlebih. Minyak turut mengikuti volatilitas komoditas yang sebelumnya menekan emas dan perak, sebelum keduanya kembali menguat pada sesi Selasa.
Pada perdagangan pagi di Singapura, WTI untuk pengiriman Maret naik 0,9% menjadi US$63,80 per barel (pukul 07.22). Sementara Brent untuk penyelesaian April ditutup menguat 1,6% di US$67,33 per barel. Pasar kini menanti apakah penguatan ini hanya reaksi sesaat atau menjadi awal tren baru.
Sumber: Newsmaker.id
