Harga emas mencatat rekor baru pada Selasa (2/9), melonjak lebih dari 1% ke atas $3.500 per ons seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga bulan September.
Emas spot naik 1,5% menjadi $3.529,01 per ons pada pukul 14.00 EDT (18.00 GMT), setelah sempat mencapai level tertinggi $3.529,93. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup 2,2% lebih tinggi di $3.592,20. Sejauh tahun ini, emas telah menguat 34,5%.
“Pasar emas memasuki periode musiman yang kuat untuk konsumsi, ditambah dengan ekspektasi penurunan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan September. Kami terus memperkirakan rekor tertinggi baru,” ujar Suki Cooper, analis logam mulia Standard Chartered Bank.
Menurut perangkat CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai hampir 92%. Emas, yang tidak memberikan imbal hasil, biasanya diuntungkan dalam kondisi suku bunga rendah.
Reli emas juga ditopang oleh pembelian bank sentral, pelemahan dolar AS, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta masuknya dana ke ETF berbasis emas. SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar di dunia, mencatat kenaikan kepemilikan 1,01% menjadi 977,68 ton, tertinggi sejak Agustus 2022.
“Pembelian oleh bank sentral dapat terus menjadi fondasi emas, tetapi arus masuk ETF diperlukan untuk mendorong harga lebih tinggi menuju target akhir tahun kami di $3.675/oz,” kata Natasha Kaneva, Kepala Strategi Komoditas Global J.P. Morgan, seraya menambahkan bahwa harga emas bisa mencapai $4.250 pada akhir 2026.
Sementara itu, harga perak spot naik tipis 0,4% ke $40,84 per ons, level tertinggi sejak September 2011. Platinum turun 0,2% menjadi $1.397,16, sementara paladium stabil di $1.137,33.
