Emas Kembali Melemah,Pasar Kurangi Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

Harga emas bertahan di level rendah pada Jumat pagi (25 Juli 2025), setelah sebelumnya terkoreksi menyusul rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja. Meski demikian, emas masih mencatatkan kenaikan mingguan tipis karena investor mulai mengurangi ekspektasi mereka terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

Harga emas batangan diperdagangkan mendekati US$3.370 per ons, turun 0,6% pada hari Kamis. Penurunan ini dipicu oleh laporan bahwa klaim tunjangan pengangguran di AS mengalami penurunan selama enam pekan berturut-turut — menjadi tren penurunan terpanjang sejak 2022. Data yang solid ini mendorong penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi, yang biasanya memberikan tekanan terhadap harga emas sebagai aset tanpa bunga.

Saat ini, para pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama baru akan terjadi pada bulan Oktober, dengan total pemangkasan sepanjang tahun kemungkinan kurang dari dua kali.

Di sisi lain, ketegangan politik turut mencuat setelah Presiden Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell terlibat perselisihan terkait renovasi kantor pusat bank sentral. Meskipun demikian, Trump tetap mendorong pemangkasan suku bunga sambil menyatakan bahwa renovasi bukanlah alasan untuk memberhentikan Powell.

Sepanjang tahun ini, harga emas telah naik lebih dari 25% didorong oleh ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik dan kebijakan perdagangan AS. Namun, sejak menyentuh rekor di atas US$3.500 per ons pada April, harga emas bergerak dalam kisaran sempit karena investor mulai kembali melirik aset berisiko.

Pada pukul 08.05 pagi waktu Singapura, harga emas spot tercatat sedikit berubah di US$3.369,67 per ons, sementara logam mulia lainnya seperti perak dan paladium relatif stagnan, serta platinum mengalami sedikit penguatan.

Sumber: Newsmaker.id